Ini adalah pengalaman pribadi saya, yang semoga saja bisa memberikan pelajaran berharga bagi yang membaca.

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan sedikit informasi mengenai hobi saya, yaitu mendengarkan musik dan menyanyi. Meskipun suara saya tidak seindah penyanyi profesional, tetapi saya termasuk orang yang mudah menghafal lagu hanya dengan beberapa kali mendengarnya saja. Apalagi jika lagu itu -baik dari nada dan liriknya- sangat enak didengar, pasti akan sangat cepat saya ingat lagu dan penyanyi nya.

Hal ini juga sama dengan informasi mengenai hal-hal penting dalam keseharian saya. Salah satu contohnya adalah informasi dan penyuluhan mengenai HIV/AIDS. Bahkan saya pernah terlibat langsung dalam kampanye di media penyiaran (radio) dan sosialisasi di beberapa kawasan Bali. Saya juga sempat merinding (antara takut dan sedih) ketika saya melihat dan mendengar langsung sharing pengalaman atau testimonial dari salah satu korban HIV/AIDS -yang ditularkan oleh suaminya sang prilaku beresiko-.

Letak kesamaan hobi saya, dan informasi penting dan penyuluhan mengenai HIV/AIDS adalah sama. Sama-sama telah hafal dan mengenali sumbernya, dan jelas bisa dilakukan dengan baik secara berulang-ulang.

Tetapi sayangnya, terkadang ketika sisi logika kita dikalahkan oleh nafsu, disitulah letak kesalahan dalam ‘menyanyikan’ kembali sebuah kebenaran dan fakta yang jelas-jelas telah kita ketahui. Saya jatuh dalam buaian nafsu dengan sesosok pria yang saya anggap tampan, sempurna dan nyaris disangka tidak mungkin ‘reaktif’. Tapi disitulah letak kesalahan saya. Saya justru berprilaku beresiko. Anggapan dan tebakan saya salah.

Pada akhirnya, jelas saya harus menanggung kesalahan saya sendiri. Tetapi saya tidak menyalahkan siapapun. Sempat terguncang dan sangat sedih pada awalnya, tetapi saya juga sadar itu tidak ada gunanya, karena hidup saya harus terus berjalan. Hidup saya bukan hanya milik saya sendiri, tetapi juga ada keluarga dan teman-teman saya. Saya tidak boleh egois. Saya harus hidup untuk mereka dan tentunya untuk diri saya sendiri, dengan (setidaknya) sisa-sisa pikiran dan tindakan positif sampai akhir hidup saya.

Terapi ARV saya anggap seperti konsumsi vitamin. Dan terus berpikiran positif, bahwa saya tidak sedang dalam kondisi reaktif. Dan ternyata berhasil di awal terapi ARV. Tubuh saya tidak mengalami seperti yang diprediksi oleh dokter; yaitu merasa mual, lemas, pusing atau lemas. Saya tetap beraktifitas seperti biasa. Itulah mengapa sampai sekarang saya tetap beraktifitas dengan normal dan merasa sehat walafiat. Akan terus mengkonsumsinya sesuai anjuran dokter, tetapi juga harus terus menjaga pola hidup yang sehat.

Pada akhirnya, seperti hobi saya yaitu menghafal sebuah lagu tetapi saya lupa lirik lagunya. Saya mengetahui informasi dan penyuluhan mengenai HIV/AIDS, tetapi saya tetap langgar larangannya. Dan sekarang adalah saatnya menyanyikan atau memberikan informasinya dengan baik kepada pembaca sekalian. Hindari prilaku beresiko. Lakukan test dengan segera, jika anda pernah melakukan prilaku beresiko. Jangan takut, tetapi ambilah hikmahnya dan belajarlah menjadi lebih baik lagi. Perkuat diri dengan ibadah, pergaulan yang positif dan tentunya perbanyak dan selalu bagikan informasi yang tepat mengenai penanggulangan HIV/AIDS.

Tidak pernah ada kata terlambat bagi anda, dalam hal apapun, terutama jika hal itu positif dan bermanfaat untuk dilakukan. Hidup adalah pilihan, dan pilihlah yang bijak. Karena kita hidup hanya sekali.

Anonymous submission

Image Credit: Lifebeat.org

Categories: Uncategorized